Pagi itu, ketika lembutnya sinar mentari membelai kulit ini dengan hangatnya, ketika suasana duka tengah menyelimuti hati, ku lihat sosok pria yang tegar, pria yang tangguh, pria yang sabar, dan juga pria yang berwibawa. Dia bukanlah seorang raja, dia bukan seorang sultan, bahkan dia bukanlah seorang kyai ataupun seorang presiden. Namun, tutur katanya yang halus, senyumnya yang sering kali menentramkan hati, dan petuah-petuahnyalah yang menjadikannya sangat dihormati. Ya, dialah kakekku. Untuk kali pertama aku melihat beliau diam dan terpaku tanpa kata-kata. Ku tahu bahwa ada rasa sedih ketika beliau ditinggal oleh sang istri. Namun, beliau mencoba untuk tetap tegar. Aku tahu bahwa beliau tidak ingin terlihat cengeng di depan anak-anak dan cucu-cucunya. Dalam hati ku berkata," Kek, apakah engkau sedih dengan kepergian nenek untuk selama-lamanya? Apakah engkau tak ikhlas jikalau nenek beristirahat dibalik tebalnya dinding tanah? Bersabarlah kakek, engkau tak sendiri, masih ada anak-anak dan cucu-cucumu yang akan senantiasa mendampingimu!". Aku yakin bahwa kakekku bukanlah seorang yang cengeng hanya dengan hal yang semacam ini, bukanlah kakekku jikalau dia menangis karena sebuah takdir.
Senin, 05 Mei 2014
Langganan:
Postingan (Atom)




