Social Icons

Senin, 07 April 2014

Dakwah Adalah Jalanku, Islam Adalah Peganganku, dan Allah Adalah Tujuanku

Satu cara penyampaian kebenaran dalam Islam yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat global pada zaman ini. Bahkan tak sedikit dari kita yang takut ketika mendengar kata dakwah karena ketika siapa saja yang menyampaikan dakwah tanpa didasari dengan cara yang benar, maka hal tersebut bisa saja membahayakan dirinya sendiri, bahkan bisa membahayakan Islam dan dakwah secara umum. Maka dari itu, ketika seseorang hendak berdakwah, ada beberapa persyaratan minimal yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pertama yakni menjadi tauladan sebelum berdakwah. Hal ini menunjukan bahwasanya ketika kita hendak berdakwah, lihatlah diri kita terlebih dahulu. Sudah pantaskah kita untuk berdakwah? Jika memang kita dirasa belum pantas untuk berdakwah, maka perbaikilah diri kita terlebih dahulu sebelum kita berdakwah. Tujuan dari hal yang semacam ini yakni ketika seseorang berdakwah, sejatinya orang tersebut hendak mengumpulkan masa dan membuat mereka percaya kepada kita. Bahkan Allah telah menyebutkan dalam surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang berbunyi , “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu erjakan.” Dari ayat tersebut, hal yang memang sangat fundamental ada kebenaran dari apa yang kita sampaikan. Sebuah kebenaran yang memang sudah kita kerjakan.
Yang Kedua yakni mengikat hati sebelum memperkenalkan. Sejatinya manusia telah diciptakan dari segumpal daging yang apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh tubuhlah, pun sebaliknya ketika segumpal daging tersebut buruk maka buruknya seluruh tubuhnya. Segumpal daging tersebut yakni hati manusia. Ketika memang kita hendak melakukan sebuah dakwah, maka yang perlu kita lakukan adalah mengikat hati setiap manusia agar mau menerima dakwah dengan lapang dada dan hati yang terbuka. Kemudian yang ketiga yakni memberikan pengertian sebelum meberikan tugas. Untuk hal yang semacam ini, pembahasan kita lebih ke arah bagaimana kita memeberi sebuah pengertian kepada masyarakat untuk mau menerima dakwah dan menjalankan setiap anjuran yang ada dalam Islam. Karena jika kita I spertmemberiakan sebuah tanggungan yang sangat berat bagi setiap objek dakwah, bisa saja orang orang tidak mau atau enggan menerima dakwah bahkan tak sedikit dari kita yang enggan untuk mengenal dakwah.
Yang selanjutnya yakni bertahap dalam memberikan tugas. Mengapa itu sangat diperlukan? Itu karena untuk setiap objek dakwah mempunyai tingkatan tertentu dalam artian bahwa ada yang memang sudah banyak mendalami ilmu agama dan ada pula yang memang baru belajar tentang ilmu agama itu sendiri. Maka ketika kita memberikan sebuah perintah kepada seseorang, kenalilah terlebih dahulu siapa orang tersebut, karena hal ini juga menentukan bagaimana kelanjutan dari orang tersebut untuk belajar dakwah. Yang kelima yakni memudahkan bukan menyulitkan. Ketika kita berdakwah, maka yang harus kita ceritakan adalah bagaimana dalam Islam itu memberikan sebuah kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Yang keenam yakni yang pokok sebelum yang cabang. Hal yang semacam ini terkadang memang dilupakan oleh para pendakwah, karena tak jarang pula dari pendakwah yang menggembar gemborkan kebenaran yang memang sifatnya ralatif tak lebih penting dari sebuah dasar ataupun nilai kebenaran dalam Islam.
Yang ketujuh yakni memberi harapan sebelum ancaman. Setiap nilai yang terkandung dalam setiap ajaran agama islam sejatinya adalah memberikan sebuah harapan terkait dengan moral, pola pikir serta kebiasaan hidup mereka sehari hari. Yang kedelapan yakni memebrikan pemahaman bukan mendikte, yang kesembilan yakni mendidik bukan menelanjangi, dan yang kesepuluh yakni murid guru bukan murid buku. Dari hal yang telah disebutkan tadi, dapat kita ketahui bahwasanya dakwah merupakan sebuah proyek besar di masa depan. Maka dari itu tak sembarangan orang bisa berdakwah meskipun setiap orang mempunyai hak untuk berdakwah. Untuk itu, sebagai generasi penerus bangsa sebagai kader Islam yang berbudi pekerti dengan dilandasi iman dan hati, “ Janganlah kita hanya menunggu adanya sebuah perubahan, lebih dari itu kitalah yang seharusnya melakukan perubahan.” (Oleh: Catur Setiawan P.FIsika 2012)
 
Blogger Templates