Mendengar kata pemimpin dan kepemimpinan, kebanyakan yang terlintas dalam pikiran kita adalah orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Namun yang perlu diingat bahwa beda antara pemimpin dan politisi, jika seorang pemimpin itu identik dengan keteladanannya, maka seorang politisi identik dengan orang pemikir dan pemikirannya. Seorang pemimpin berani bertanggungjawab atas segala bentuk keputusannya, akan tetapi seorang pengecut akan lari dari konsekuensi atas apa yang telah diperbuatnya. Maka dari itu, tak ada pemimpin yang patut untuk dicontoh dan diteladani kecuali Rasulullah SAW beserta para sahabatnya yang memang pada saat itu dengan keteguhan hatinya senantiasa berjihad di jalan Allah. Ada ciri dari sifat kepemimpinan Nabi yang patut kita teladi, yakni fathonah, amanah, shidiq dan tabligh.
Fathonah, itu berarti sebuah kecerdasaan. Yang perlu kita ingat yakni bahwa pintar itu berbeda dengan cerdas, jikalau pintar itu hanya dilihat dari segi kognitif yang dimiliki, maka cerdas adalah bagaimana cara serta teknik teknik dalam pencapaian sebuah prestasi, dan jikalau cerdas itu banyak bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepadanya, maka bodoh adalah tidak bisa mensyukuri segala anugerah-Nya. Ada sebuah cerita, ketika pada zaman dulu ada seorang wanita miskin hidup bersama anaknya. Ketika sampai pada suatu hari, si anak sangat mengeluh karena menahan rasa laparnya terlalu lama. Kemudian si anak memberanikan diri untuk bertanya kepada sang ibu,"Bu, aku sangat lapar, adakah sesuap nasi yang bisa aku makan?". Sang ibu mulai kebingungan ketika putranya menanyakan hal tersebut kepada dirinya. Karena tidak mau membuat anaknya kecewa, sang ibu berpura-pura sedang menanak nasi untuk makan malam mereka. Lalu kemudian sang ibupun menjawab pertanyaan sang anak,"tidurlah nak, hari sudah malam, nanti ketika kamu terbangun dari tidurmu, akan ada nasi yang bisa kita makan". Maka sang anak pun perlahan mulai memejamkan matanya, dan siapa sangka bahwa yang ada di dalam panci, yang dikira adalah nasi yang sedang dimasak oleh ibunya, adalah sebuah batu. Hal ini dilakukan oleh sang ibu karena tidak mau mengecewakan anaknya. Pada malam itu pula Umar datang ke rumah wanita tersebut, namun siapa sangka wanita tersebut malah memaki sang Umar," wahai Umar, mengapa engkau membiarkan kami hidup misikin dan kelaparan seperti ini, sungguh engkau termasuk orang yang dzalim karena membiarkan kami seperti ini!". Maka seketika itu pula si Umar bergegas menuju gudang yang disitu terdapat daging. Si Umar hendak membawa sebagian daging tersebut kepada wanita tersebut, sekalipun ada penjaga yang menjaga gudang tersebut. Umar pun pernah berkata bahwa domba yang kemudian terkena lubang adalah tanggungjawab Umar juga. Maka adanya pemimpin yang baik karena dari rakyat yang baik, pun sebaliknya rakyat yang baik karena adanya seorang pemimpin yang baik yang peduli dan mensejahterahkan rakyatnya.
Amanah, yang berati bahwa menjaga apa yang telah dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Satu buat kalimat dari Umar yang sangat menginspirasi yakni."Walaupun saya amirul mukminin, saya itu bukan hakim, tapi pelaksana karena Allah". Umar sangat memegang teguh apa apa saja yang diperintahkan Allah kepada setiap manusia, dan menjauhi apa saja yang menjadi larangan-Nya tanpa pada bulu dia itu siapa. Ada sebuah cerita ketika dulu anak pertama Umar bin Khatab diketahui telah meminum khomr, dan dia dilaporkan oleh seseorang kepada Umar. Kemudian anaknya dipanggil untuk mengadap Umar dan ditanya tentang kebenaran dari berita yang dia dapatkan. Dan memang berita yang dia dengar adalah sebuah kenyataan bahwa anaknya telah meminum khomr. Maka Umar pun memberi 20 cambukan, 40 cambukan bahkan sampai kemudian anaknya meninggal dunia. Bahkan sebelum anaknya Umar meninggal dunia, Umar berkata," Jika kelak kamu bertemu Rasul, katakanlah bahwa Umar telah melaksanakan hukum Allah". Disini dapat dilihat, bahwa hukum Allah berlaku untuk siapa saja, tak pandang bulu, jabatan atau dia itu siapa, bahkan sekalipun itu adalah kerabat dekat kita. Berbeda dengan anak pertama Umar, anak kedua lebih buruk lagi daripada anak yang pertama. Kali ini, anak kedua Umar juga meminum khomr. Akan tetapi tak sekedar meminu khomr, ketika dia sedang dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang wanita dan dia memperkosa wanita tersebut hingga wanita tersebut hamil. Dan ketika sembilan bulan berlalu, anak itupun terlahir. Kemudia n, sang wanita tersebut membawa anaknya kehadapan Umar, dan menceritakan kronologi terjadinya permerkosaan tersebut serta memberitahu pula siapakah ayah dari anak yang dia lahirkan. Maka mendengar hal tersebut, Umar langsung memberikan hukuman kepada anaknya. Umar memberikan hukuman berupa cambukan, dan setiap kali 40 cambukan telah diberikan Umar kepada anaknya, anaknya merengek meminta belas kasihan kepada ayah kandunganya sendiri. Akan tetapi, setiap kali anaknya merengek meminta belas kasihan, maka Umar pun menambah 40 cambukan yang diberikan kepada tubuh anaknya hingga anaknya meninggal dunia. Namun, sebelum anaknya meninggal dunia, Umar pun sempat berkata," Jika kelak kamu bertemu Rasul, katakanlah bahwa Umar telah melaksanakan hukum Allah". Dan ketika pada suatu malam Umar bemimpi bahwa dia bertemu dengan kedua anaknya yang berada di samping Rasul, dan Rasul berkata kepada beliau," Wahai Umar, kedua anakmu telah mengatakan bahwa kamu telah melaksanakan hukum Allah".
Kemudian sifat yang ketiga yakni shidiq atau jujur. Seorang pemimpin harus jujur, menerima segala masukan dari orang lain dan berkata apa adanya kepada orang lain. Dalam sebuah cerita diriwatkan bahwa ketika itu anak umar diberi perunggu oleh baitul mal. Kemudian anak tersebut ditanya, darimana dia mendapatkan perunggu itu. Anak itupun menjawab bahwa dia mendapatkan perunggu itu dari baitul mal. Lantas kemudian Umar bergegas menemui baitul mal dan bertanya," mengapa kau meberikan perunggu ini kepada anakku, seusungguhnya engkau tau bahwa kami masih tergolong orang yang mampu?". Maka baitul mal pun menjawab bahwa dia memberikan perunggu tersebut kepada anak Umar secara cuma cuma karena dia bingung mau buat apa perunggu itu, sekalipun mau dicatat dalam sebuah lembar kertas, maka itupun harus dalam lembar kertas yang berbeda. Dan karena amat malanya baitul mal untuk menyediakan satu lembar hanya untuk satu perunggu, maka dia memutuskan untuk memberikan perunggu itu kepada anak Umar yang memang ketika itu sedang berada di sekitar baitul mal.
Dan sifat yang terakhir yakni tabligh atau menyampaikan. Seorang pemimpin harus bisa memberikan berita dengan penyampaian yang baik kepada rakyatnya, agar tidak menimbulkan salah paham.
Dan itulah tadi sedikit gambaran tentang nilai kepemimpinan, ketika bagaimana kita menjadi seorang pemimpin mampu memerankan peran kepemimpinan kita untuk orang orang disekitar kita. Seorang pemimpin yang baik terlahir dari rahim seorang ibu yang baik pula, dan pemimpin yang besar adalah pemimpin yang bisa menghasilkan pemimpin pemimpin yang lebih hebat dari dirinya.
Mungkin banyak kesalahan dalam penulisan ataupun kosakata yang kurang tepat, penulis meminta maaf yang setulus-tulusnya karena ini juga merupakan bagian dari proses belajar.
Semangat Belajar Menulis :)
Kemudian sifat yang ketiga yakni shidiq atau jujur. Seorang pemimpin harus jujur, menerima segala masukan dari orang lain dan berkata apa adanya kepada orang lain. Dalam sebuah cerita diriwatkan bahwa ketika itu anak umar diberi perunggu oleh baitul mal. Kemudian anak tersebut ditanya, darimana dia mendapatkan perunggu itu. Anak itupun menjawab bahwa dia mendapatkan perunggu itu dari baitul mal. Lantas kemudian Umar bergegas menemui baitul mal dan bertanya," mengapa kau meberikan perunggu ini kepada anakku, seusungguhnya engkau tau bahwa kami masih tergolong orang yang mampu?". Maka baitul mal pun menjawab bahwa dia memberikan perunggu tersebut kepada anak Umar secara cuma cuma karena dia bingung mau buat apa perunggu itu, sekalipun mau dicatat dalam sebuah lembar kertas, maka itupun harus dalam lembar kertas yang berbeda. Dan karena amat malanya baitul mal untuk menyediakan satu lembar hanya untuk satu perunggu, maka dia memutuskan untuk memberikan perunggu itu kepada anak Umar yang memang ketika itu sedang berada di sekitar baitul mal.
Dan sifat yang terakhir yakni tabligh atau menyampaikan. Seorang pemimpin harus bisa memberikan berita dengan penyampaian yang baik kepada rakyatnya, agar tidak menimbulkan salah paham.
Dan itulah tadi sedikit gambaran tentang nilai kepemimpinan, ketika bagaimana kita menjadi seorang pemimpin mampu memerankan peran kepemimpinan kita untuk orang orang disekitar kita. Seorang pemimpin yang baik terlahir dari rahim seorang ibu yang baik pula, dan pemimpin yang besar adalah pemimpin yang bisa menghasilkan pemimpin pemimpin yang lebih hebat dari dirinya.
Mungkin banyak kesalahan dalam penulisan ataupun kosakata yang kurang tepat, penulis meminta maaf yang setulus-tulusnya karena ini juga merupakan bagian dari proses belajar.
Semangat Belajar Menulis :)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar