Social Icons

Featured Posts

Senin, 05 Mei 2014

Pria Tegar, Panutan Keluarga

Pagi itu, ketika lembutnya sinar mentari membelai kulit ini dengan hangatnya, ketika suasana duka tengah menyelimuti hati, ku lihat sosok pria yang tegar, pria yang tangguh, pria yang sabar, dan juga pria yang berwibawa. Dia bukanlah seorang raja, dia bukan seorang sultan, bahkan dia bukanlah seorang kyai ataupun seorang presiden. Namun, tutur katanya yang halus, senyumnya yang sering kali menentramkan hati, dan petuah-petuahnyalah yang menjadikannya sangat dihormati. Ya, dialah kakekku. Untuk kali pertama aku melihat beliau diam dan terpaku tanpa kata-kata. Ku tahu bahwa ada rasa sedih ketika beliau ditinggal oleh sang istri. Namun, beliau mencoba untuk tetap tegar. Aku tahu bahwa beliau tidak ingin terlihat cengeng di depan anak-anak dan cucu-cucunya. Dalam hati ku berkata," Kek, apakah engkau sedih dengan kepergian nenek untuk selama-lamanya? Apakah engkau tak ikhlas jikalau nenek beristirahat dibalik tebalnya dinding tanah? Bersabarlah kakek, engkau tak sendiri, masih ada anak-anak dan cucu-cucumu yang akan senantiasa mendampingimu!". Aku yakin bahwa kakekku bukanlah seorang yang cengeng hanya dengan hal yang semacam ini, bukanlah kakekku jikalau dia menangis karena sebuah takdir. 

Senin, 07 April 2014

Dakwah Adalah Jalanku, Islam Adalah Peganganku, dan Allah Adalah Tujuanku

Satu cara penyampaian kebenaran dalam Islam yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat global pada zaman ini. Bahkan tak sedikit dari kita yang takut ketika mendengar kata dakwah karena ketika siapa saja yang menyampaikan dakwah tanpa didasari dengan cara yang benar, maka hal tersebut bisa saja membahayakan dirinya sendiri, bahkan bisa membahayakan Islam dan dakwah secara umum. Maka dari itu, ketika seseorang hendak berdakwah, ada beberapa persyaratan minimal yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Pertama yakni menjadi tauladan sebelum berdakwah. Hal ini menunjukan bahwasanya ketika kita hendak berdakwah, lihatlah diri kita terlebih dahulu. Sudah pantaskah kita untuk berdakwah? Jika memang kita dirasa belum pantas untuk berdakwah, maka perbaikilah diri kita terlebih dahulu sebelum kita berdakwah. Tujuan dari hal yang semacam ini yakni ketika seseorang berdakwah, sejatinya orang tersebut hendak mengumpulkan masa dan membuat mereka percaya kepada kita. Bahkan Allah telah menyebutkan dalam surat Ash-Shaff ayat 2-3 yang berbunyi , “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu erjakan.” Dari ayat tersebut, hal yang memang sangat fundamental ada kebenaran dari apa yang kita sampaikan. Sebuah kebenaran yang memang sudah kita kerjakan.
Yang Kedua yakni mengikat hati sebelum memperkenalkan. Sejatinya manusia telah diciptakan dari segumpal daging yang apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh tubuhlah, pun sebaliknya ketika segumpal daging tersebut buruk maka buruknya seluruh tubuhnya. Segumpal daging tersebut yakni hati manusia. Ketika memang kita hendak melakukan sebuah dakwah, maka yang perlu kita lakukan adalah mengikat hati setiap manusia agar mau menerima dakwah dengan lapang dada dan hati yang terbuka. Kemudian yang ketiga yakni memberikan pengertian sebelum meberikan tugas. Untuk hal yang semacam ini, pembahasan kita lebih ke arah bagaimana kita memeberi sebuah pengertian kepada masyarakat untuk mau menerima dakwah dan menjalankan setiap anjuran yang ada dalam Islam. Karena jika kita I spertmemberiakan sebuah tanggungan yang sangat berat bagi setiap objek dakwah, bisa saja orang orang tidak mau atau enggan menerima dakwah bahkan tak sedikit dari kita yang enggan untuk mengenal dakwah.
Yang selanjutnya yakni bertahap dalam memberikan tugas. Mengapa itu sangat diperlukan? Itu karena untuk setiap objek dakwah mempunyai tingkatan tertentu dalam artian bahwa ada yang memang sudah banyak mendalami ilmu agama dan ada pula yang memang baru belajar tentang ilmu agama itu sendiri. Maka ketika kita memberikan sebuah perintah kepada seseorang, kenalilah terlebih dahulu siapa orang tersebut, karena hal ini juga menentukan bagaimana kelanjutan dari orang tersebut untuk belajar dakwah. Yang kelima yakni memudahkan bukan menyulitkan. Ketika kita berdakwah, maka yang harus kita ceritakan adalah bagaimana dalam Islam itu memberikan sebuah kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Yang keenam yakni yang pokok sebelum yang cabang. Hal yang semacam ini terkadang memang dilupakan oleh para pendakwah, karena tak jarang pula dari pendakwah yang menggembar gemborkan kebenaran yang memang sifatnya ralatif tak lebih penting dari sebuah dasar ataupun nilai kebenaran dalam Islam.
Yang ketujuh yakni memberi harapan sebelum ancaman. Setiap nilai yang terkandung dalam setiap ajaran agama islam sejatinya adalah memberikan sebuah harapan terkait dengan moral, pola pikir serta kebiasaan hidup mereka sehari hari. Yang kedelapan yakni memebrikan pemahaman bukan mendikte, yang kesembilan yakni mendidik bukan menelanjangi, dan yang kesepuluh yakni murid guru bukan murid buku. Dari hal yang telah disebutkan tadi, dapat kita ketahui bahwasanya dakwah merupakan sebuah proyek besar di masa depan. Maka dari itu tak sembarangan orang bisa berdakwah meskipun setiap orang mempunyai hak untuk berdakwah. Untuk itu, sebagai generasi penerus bangsa sebagai kader Islam yang berbudi pekerti dengan dilandasi iman dan hati, “ Janganlah kita hanya menunggu adanya sebuah perubahan, lebih dari itu kitalah yang seharusnya melakukan perubahan.” (Oleh: Catur Setiawan P.FIsika 2012)

Sabtu, 29 Maret 2014

Pesta Demokrasi 2014, Pesta Demokrasi Lima Tahunan Republik Indonesia Telah Tiba Kembali

Lucu memang melihat negera ini dijuluki negara demokrasi. Memang benar dalam sistem pemilihan kepala pemerintahan melalui Pemilihan Umum yang dilakukan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, namun fenomena itu pun masih saja menghantui negera ini, fenomena ketika bagaimana hak rakyat untuk memilih dibeli dengan sebuah amplop berisikan lembar rupiah. Negara ini membebaskan kepada setiap rakyatnya untuk bebas memilih wakil rakyat, maka tidak sepantasnya para calon rakyat melakukan hal yang semacam itu. Dan tahun ini, pesta demokrasi lima tahunan itu pun akan kembali digelar, pesta akbar negara Indonesia yang akan menentukan siapakah pemimpin dan wakil rakyat untuk lima tahun ke depan. Ketika bagaimana setiap calon pemimpin dan wakil rakyat tersebut dihadapkan pada sejuta permasalahan dan tuntutan rakyat Indonesia. Terlepas dari siapakah nanti yang terpilih, lihatlah proses keberjalanan pesta demokrasi akbar lima tahunan tersbut. Berbagai aksi, berbagai konvoi bahkan kampanye yang akhir akhir ini sudah terjadi. Mereka membanggakan bendera partai yang mereka yakini akan membawa kesejahteraan dan kemaslahatan bagi setiap orang di negeri ini. Mereka juga membanggakan para calon wakil rakyat yang berasal dari bendera partai yang mereka junjung tinggi. Untuk meyakinkan kepada orang orang jikalau partai yang mereka banggakan adalah benar benar partai yang akan membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, mereka menggembar gemborkan dengan suara keras dan lantang di sepanjang jalan. Suara berisik dan tak enak di dengar oleh telinga pun tak bisa dihindarkan. Banyak sekali janji janji manis yang mereka janjikan kepada warga negara Indonesia. Saking banyaknya janji janji manis yang dijanjikan oleh para wakil rakyat tersebut, membuat kebingungan tersendiri bagi para pemilik hak pilih. Maka, tak sedikit dari mereka pun yang lebih memilih mereka yang mempunyai janji termanis dengan iming iming amplop berisikan rupiah. Dan sore tadi, saya bertemu dengan seorang kakek tuwa asal kota Klaten. Pak Joko namanya. Pria paruh baya yang kulitnya sudah keriput itu menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Klaten tempat kelahirannya menggunakan sepada. Beliau sudah seminggu bersepeda dari Jakarta dengan ditemani oleh rekannya yang kebetulan juga sudah mulai termakan usia yang menurut penuturan beliau, mereka bertemu dalam sebuah acara di Surabaya. Bukan karena beliau tidak punya uang, tapi beliau tetap ingin terlihat muda di masa tuwanya. Meski hanya sebentar pertemuanku dengan Pak Joko, akan tetapi beliau sudah banyak bercerita tentang masa lalu dan masa sekarang. Ketika dulu korupsi dilakukan dengan rasa takut dan malu, maka pada zaman sekarang korupsi seperti bagian dari kehidupan yang tak bisa dipisahkan. Beliau menuturkan pula bahwa Soekarn, Soeharto, adalah sosok sosok seorang pemimpin yang emberikan kontribusi lebih untuk negeri ini, selain memang ada beberapa kekurangan dari dua tokoh tersebut. Katakanlah Soekarno yang dulu dengan susah payah dan gagah berani memproklamirkan negara Indonesia agar Indonesia dapat merdeka, tentunya dengan harapan bahwa generasi selanjutnya mampu menjaga dan merawat negeri ini beserta seisinya. Lalu kemudian Soeharto yang membangun jalan raya jalur selatan Jawa dari Pangandaran sampai Banyuwangi. Dan sesekalipun beliau terpancing emosinya ketika beliau menceritakan keadaan Pelabuhan Ratu yang sekarang. Menurut penuturan beliau, pelabuhan Ratu yang sekarang sudah banyak di eksploitasinya pasir yang ada di sekitarnya, pun juga dengan adanya pendirian pabrik semen yang besar yang dibangun di sekitar pelabuhan Ratu."Gali gali dan gali, eksploitasi eksploitasi dan eksploitasi", begitulah yang beliau katakan tentang bangsa ini.
Akankah pemimpin yang sekarang dan yang akan datang masih mempedulikan negeri ini untuk kemajuan bangsa?
Jikalau saya diberi kesempatan kepada mereka para calon pemimpin negeri ini, maka saya akan meminta dengan sangat kepada mereka, para calon presiden dan wakil presiden, kepada para calon legislatif dan wakil rakyat bahwa saya haru melihat negeri ini. Haru ketika melihat negeri yang penuh dengan segala sumber daya alam yang melimpah ruah di alam di eksploitasi oleh mereka yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, haru ketika melihat perjuangan dan kerja keras mereka, para pahlawan kemerdekaan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Pak Buk, Om Tante, jikalau panjenengan yang pada akhirnya terpilih menjadi pemimpin negeri ini, janganlah setelah itu kalian mentelantarakn kami, penuhi janji janji yang telah kalian janjikan secara manis sebelumnya, maka dengan begitu kami tidak akan pernah menyesali karena telah memilih panjenengan semua.

#Indonesia Cerdas, Indonesia Jaya dengan Presiden dan Pemimpin Negarawan

 
Blogger Templates